Mengapa Terjadi Keterlambatan Kapal?

  • Ronnie Aban
  • 18 Maret 2025
4 Menit 20 Detik
Mengapa Terjadi Keterlambatan Kapal?

Apa Itu Keterlambatan Kapal

Keterlambatan kapal sudah menjadi pengetahuan umum di kalangan pemilik kargo. Secara faktual, ketika agen pengiriman memberi tahu pemilik kargo bahwa kapal mengalami keterlambatan, satu-satunya pilihan adalah menerimanya sebagai bagian dari logistik. Keterlambatan kapal yang sederhana dapat memiliki efek domino yang berujung pada biaya signifikan yang akhirnya harus ditanggung oleh pemilik kargo.

Pada bagian pertama, kita akan membahas peristiwa yang menyebabkan keterlambatan kapal. Selanjutnya, kita akan mencantumkan tanggung jawab pemilik kapal, penyewa kapal, pelabuhan, dan otoritas kepabeanan yang dapat menyebabkan keterlambatan kapal.

Penyebab Keterlambatan Kapal

Merupakan penyederhanaan yang berlebihan jika semua keterlambatan pengiriman dikaitkan dengan kapal. Para pembaca artikel ini tidak hanya ingin mengetahui alasan keterlambatan kapal, tetapi juga keterlambatan dalam rantai pasok secara keseluruhan. Oleh karena itu, perlu untuk meninjau seluruh infrastruktur logistik maritim. Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa keterlambatan pengiriman tidak hanya disebabkan oleh keterlambatan kapal semata.

Keterlambatan Kapal Transshipment

Pada dasarnya, rute pelayaran kapal sangat mirip dengan sistem transportasi umum seperti kereta dan bus. Rute ini dikenal sebagai sistem hub-and-spoke.

Pelabuhan yang strategis dan memiliki lalu lintas kapal tertinggi berfungsi sebagai hub utama. Hub utama ini akan menerima sebagian besar kargo dari seluruh dunia. Kapal feeder atau kapal yang lebih kecil kemudian akan mengangkut kargo ke pelabuhan-pelabuhan yang lebih kecil di sekitar hub utama.

Ini adalah tindakan penyeimbangan yang kompleks, di mana kapal VLCC utama harus tiba tepat waktu di hub utama agar tidak menunda tahap berikutnya dari transportasi.

Efek domino terjadi ketika ada keterlambatan yang tidak terduga pada tahap awal layanan rute kapal utama. Sebagai contoh, keterlambatan selama 5 jam di pelabuhan muat (karena kerusakan derek) dapat mengakibatkan keterlambatan lebih lanjut hingga 2 hari di pelabuhan tujuan berikutnya.

Fasilitas Pelabuhan yang Tidak Memadai

Sebagai analogi, bayangkan sebuah terminal bus yang tidak memiliki cukup tempat pemberhentian untuk bus yang datang, atau bandara yang tidak memiliki cukup terminal untuk pesawat yang mendarat.

Masalah ini juga terjadi dalam transportasi kargo maritim, di mana fasilitas pelabuhan yang memadai berperan penting dalam memperlancar perdagangan global.

Pelabuhan hub utama berlomba untuk berinvestasi dan membangun infrastruktur yang lebih besar dan lebih efisien. Di sisi lain, pembuat kapal berlomba membangun kapal yang lebih besar untuk memanfaatkan skala ekonomi.

VLCC yang berukuran besar sulit untuk diakomodasi oleh pelabuhan biasa, yang menyebabkan keterlambatan kapal.

Fasilitas pelabuhan lainnya yang harus beroperasi secara efisien agar tidak menyebabkan keterlambatan dalam rantai pasok adalah:

Ruang Penumpukan Kontainer

Ruang penumpukan kontainer terletak di sepanjang dermaga pelabuhan. Semakin pendek jarak antara kapal dan ruang penumpukan, semakin efisien proses pembongkaran dan penumpukan kontainer.

Namun, jika terjadi lonjakan masuknya kargo kontainer secara tiba-tiba, maka ruang penumpukan dapat menjadi penuh, memaksa kapal untuk menahan kargo di atas kapal hingga tersedia ruang yang cukup.

Crane Gantry

Crane gantry, atau crane overhead, berfungsi sebagai "tangan" dari pelabuhan kontainer. Crane ini mengangkat kargo dari kapal dan menempatkannya di pelabuhan. Semakin banyak crane gantry yang tersedia, semakin cepat proses bongkar muat kargo berlangsung.

Sebaliknya, pelabuhan yang memiliki jumlah crane gantry yang lebih sedikit dari yang dibutuhkan akan mengalami hambatan dalam proses bongkar muat, yang pada akhirnya menyebabkan keterlambatan.

Layanan Stevedoring

Layanan stevedoring modern berbeda dengan stevedore tradisional. Sebelum adanya kontainer, setiap kargo harus dimuat dan dibongkar secara manual oleh stevedore. Saat ini, pekerjaan ini telah digantikan oleh operator crane gantry.

Namun, kargo yang dikontainerisasi hanya mencakup sekitar 30% dari perdagangan internasional, sementara 70% sisanya dikirim dalam bentuk curah dan memerlukan layanan stevedoring yang terkoordinasi.

Ketergantungan tinggi pada layanan stevedoring dalam bongkar muat kargo curah berarti bahwa jika terjadi masalah dalam layanan ini, keterlambatan pengiriman tidak dapat dihindari.

Fasilitas Lainnya

Gudang Pelabuhan Pelabuhan memiliki gudang untuk menampung kargo curah, konsinyasi LCL, serta suku cadang peralatan pelabuhan. Masalah pada gudang pelabuhan juga dapat menyebabkan keterlambatan pengiriman.

Layanan Pemanduan dan Kapal Tunda Fasilitas pemanduan dan kapal tunda mencakup berbagai layanan, termasuk:

  • Transportasi personel dan staf antara pelabuhan dan area jangkar
  • Bantuan kapal (misalnya, penambatan)
  • Salvage kapal yang kandas
  • Penarikan kapal di pelabuhan/lautan
  • Respons terhadap tumpahan minyak

Force Majeure

Menurut Bank Dunia, force majeure didefinisikan sebagai peristiwa di luar kendali pihak-pihak yang terlibat yang menghalangi mereka untuk menjalankan peran dan tanggung jawabnya sesuai kontrak.

Beberapa peristiwa force majeure yang sering diklaim menyebabkan keterlambatan kapal meliputi:

  • Perang dan operasi militer
  • Pembajakan atau aksi terorisme
  • Embargo
  • Blokade
  • Kemacetan pelabuhan
  • Pemogokan atau perselisihan tenaga kerja
  • Campur tangan otoritas pemerintah atau lokal

Otoritas Resmi

Otoritas resmi yang memiliki pengaruh terhadap keterlambatan kapal dapat dikategorikan menjadi empat:

  1. Otoritas Kepabeanan: Mengawasi keamanan kargo yang masuk dan memungut pajak serta bea impor.
  2. Otoritas Pemerintah Terkait: Mengatur aturan dan regulasi terkait kargo tertentu, seperti FDA untuk makanan dan obat-obatan.
  3. Otoritas Pelabuhan: Bertanggung jawab atas keselamatan dan pengawasan operasional terminal.
  4. Otoritas Internasional: Termasuk pengawasan negara bendera dan pengawasan negara pelabuhan yang dapat menahan kapal jika ditemukan ketidaksesuaian standar keselamatan dan pencemaran lingkungan.

Kesalahan Manusia

Meskipun teknologi telah berkembang pesat, kesalahan manusia tetap menjadi faktor penyebab keterlambatan kapal. Contoh nyata adalah insiden MV Ever Given yang kandas di Terusan Suez pada 23 Maret 2021, menyebabkan miliaran dolar kerugian akibat keterlambatan pengiriman.

Kesalahan manusia juga dapat terjadi dalam bentuk lebih kecil, seperti kesalahan dalam memperkirakan waktu kedatangan kapal di pelabuhan yang sering padat, yang akhirnya menyebabkan keterlambatan lebih lanjut.

Kesimpulan

Banyak faktor yang berkontribusi terhadap keterlambatan kapal, termasuk faktor di luar kendali operator kapal. Dengan begitu banyak pemangku kepentingan yang terlibat dalam pengaturan pengiriman laut, tidak ada solusi konkret yang dapat sepenuhnya menghilangkan masalah keterlambatan kapal. Yang dapat dilakukan adalah bersiap menghadapi kemungkinan tersebut.